Pelaksanaan

Upacara piodalan diadakan enam bulan sekali setiap wuku Wayang yang dimulai pada hari Minggu Wuku Wayang sampai hari Sabtu Wuku Wayang. Tetapi krama pemaksan sudah memulai kegiatan satu minggu sebelumnya yaitu mulai hari Minggu Wuku Ugu para krama sudah membuat bermacam-macam persiapan/perlengkapan, yaitu : untuk kaum laki-laki membuat bangunan sementara untuk tempat banten/sesajen, membuat kelatkat, penjor, katik sekar, dll. Sedangkan kaum wanita mempersiapkan berbagai macam sesajen yang akan dihaturkan.
Kemudian tepat pada hari Senin Wuku Wayang merupakan puncak piodalan atau hari pe
rtama piodalan dimulai. Para dalang di Kabupaten Buleleng khusunya datang dan ikut mengadakan persembahyangan bersama dengan para krama pemaksan, masyarakat Pemaron khususnya dan masyarakat Buleleng umumnya. Tidak hanya masyarakat Buleleng namun ada juga masyarakat dari luar daerah Buleleng, seperti dari Kabupaten Gianyar, Jembrana, Karangasem datang untuk meminta/nunas tirtha pengelukatan khususnya yang mempunyai anak yang lahir pada Wuku Wayang. Selain itu masih juga ada tamu-tamu asing yang datang yang sekedar untuk melihat upacara piodalan tersebut.Prosesi nganteb dimulai pukul 20.00 wita. Setelah prosesi nganteb tersebut selesai, maka dilanjutkan dengan persembahyangan bersama. Dan kemudian setelah persembahyangan bersama selesai maka dilanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit oleh para dalang yang bermaksud ingin mempertontonkan lakonnya. Bagi para dalang yang hadir dan bermaksud untuk melakukan pertunjukan wayang akan diatur secara bergantian oleh pengurus organisasi yang ada.Pura Siwa Manik Dalang yang di bangun di Desa Pemaron ada hubungan niskalanya dengan Desa Gobleg (Kecamatan Banjar), yaitu ayahnya di Desa gobleg dan putranya di Desa Pemaron.Menurut keyakinan umat Hindu Dharma umumnya yang mempunyai anak yang lahir pada wuku Wayang biasanya dimintakan tirtha pengelukatan (air suci sebagai pengeruat/pembersihan terhadap anak tersebut). Karena kalau anak tersebut tidak dimintakan tirtha pengelukan, maka anak tersebut akan selalu merasa sakit, ngelamun pikirannya, kelihatan sifat-sifatnya seperti orang yang tidak waras, merasa ada orang mengejar-ngejar dirinya.Menurut cerita wayang penyapuh leger Ida Batara Siwa mempunyai dua orang putra, yaitu Batara Kala dan Rare Kumara. Disini diceritakan bahwa Batara Kala tidak ingin ada yang menyamai/mematuhi hari kelahirannya seperti adiknya Rare Kumara. Karena dianggap Rare Kumara memada-mada (menyamai) hari kelahirannya, disanalah Batara Kala marah besar terhadap adiknya sehingga Rare Kumara hendak dimangsa oleh Batara Kala. Oleh karena Ida Batara Siwa / Sang Hyang Siwa ingin menyelamatkan putranya Rare Kumara diutuslah ia turun Kemerjapada untuk meminta bantuan pada kerajaan Kerta Negara yang dipimpin oleh Raja Maya Sura yang mempunyai tiga patih yaitu Punta Jerudeh, Kartala, dan Kanuruhan. Oleh karena perang di Kerta Negara ketiga  patih dan rajanya tersebut kalah melawan Batara Kala.Larilah Rare Kumara dari Kerta Negara. Karena ia merasa hari sudah mulai malam maka perjalanannyapun terhenti pada sebuah pertunjukan wayang yang dilakoni oleh seorang Mangku Dalang dengan menggunakan sesajen/banten bebali (Gelar Sanga). Disanalah Rare Kumara datang dan menangis meminta bantuan kepada Sang Mangku Dalang untuk keselamatannya agar tidak dimangsa oleh kakaknya Batara Kala. Sang Mangku Dalangpun mau menolong Rare Kumara, disembunyikanlah Rare Kumara dipelawah gender/ditengah gender. Dan ketika itu juga datanglah Batara Kala ke tempat pertunjukan wayang tersebut, dilihatnyalah sesajen/banten yang ada didepan Sang Mangku Dalang karena merasa dirinya sangat lapar dimakanlah sesajen tersebut oleh Batara Kala. Disanalah Sang Mangku Dalang mengetahui Batara Kala sedang memakan sesajen yang belum dihaturkan tersebut. Oleh karena sesajen itu belum dihaturkan namun Batara Kala telah memakan sesajen tersebut maka Sang Mangku dalang meminta kepada Batara Kala untuk mengembalikan sesajen tersebut.Akan tetapi Batara Kala tidak bisa mengembalikan sesajen itu, disanalah Sang Mangku dalang meminta kepada Batara Kala dan sembari berkata “Wahai Engkau Batara Kala, Barang siapa yang lahir pada wuku Wayang dan telah dibuatkan sesajen seperti ini maka Engkau Batara Kala tidak lagi boleh mengganggu orang tersebut”.Dan disanalah juga Batara Kala memberikan anugrah kepada Sang Mangku Dalang agar didalam melaksanakan kewajiban sebagai Mangku Dalang agar menemukan kebaikan dan kesejahteraan diwaktu melaksanakan upacara pengeruatan manusia (wong) yang hidup /mati dan mala. Dan tidak terkena marabahaya seputra-putrinya Sang Mangku dalang akan menemukan kesejahteraan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s