Pura Siwa Manik Dalang

Sekilas Sejarah Pura Siwa Manik Dalang di Desa Pemaron

Wayang di kenal semenjak Bali Kuna dalam pertunjukan pada abad 10, 11 atau 1000 tahun yang lalu sudah dikenal kesenian wayang di Bali. Di Bali wayang ini disebut bebali yang artinya adalah unsur tontonan dan bersifat sakral (suci). Selain bersifat hiburan dalam arti mendidik juga berarti suci (sakral). Segala kesucian ini dihimpun dan dihormati pada seperangkat alat wayang itu sendiri dan juga dihormati pada suatu tempat dibuatkan suatu pelinggih sebagai contoh Pura Siwa Manik Dalang yang berlokasi di Desa Pemaron. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kesenian dan ada hubungannya dengan kesenian wayang maka di Pura inilah kesenian itu difokuskan. Pura Siwa Manik Dalang di Desa Pemaron ditata pada masa pemerintahan Raja Gendis dan kemudian ditata lagi pada zaman Raja Panji Sakti Buleleng. Dengan bukti adanya dalang-dalang yang terkenal di Buleleng seperti di Desa Tejakula, Petemon, sekitar Sukasada, Padang Bulia, Pengelatan. Adapun peranan dalang ini karena dianggap mewakili perannya yang suci dapat dihubungkan dengan upacara ruat/melukat, sudamala, sapuh leger dengan tuntunan (doa) untuk mencapai tempat yang mulia bagi Sang Hyang Atma, misalnya upacara pertunjukan wayang pada waktu puja memukur. Sebab tirta suci itu tidak bisa dipisah-pisahkan, misalnya tirta seorang pendeta harus dilengkapi dengan tirta seorang dalang dan juga harus dilengkapi dengan tirta lainnya, misalnya :

  1. Tirta kemulan/merajan
  2. Tirta pura dalem
  3. Tirta betara surya/padmasana dll.

Dalam berkesenian sekaligus didalam upacara, dalang dianggap sebagai kawi dalang. Para dalang inilah dianggap sebagai lambang Ida Sang Hyang Parama Kawi dalam hal menata cerita untuk meluruskan dan memerankan dalang. Dan seorang dalangpun dalam hal ini adalah seorang seniman atau pragina dan juga seorang suci (sakral) yang memohonkan tirta ruat.

Peralatan dalang seperti lampu sebagai lambang dari pada perputaran waktu.


Gedog adalah ibaratnya bumi yang mendukung segala kehidupan diatas dunia ini.

Kelir adalah melambangkan segala kehidupan dan perjuangan pada ciptaan Tuhan.

  1. Gedebong adalah lambang daripada yang mendasari perjuangan makhluk ciptaan Tuhan. Disanalah diketemukannya mulia, tidak mulianya yang berjuang itu, gedebong yang diatas sebagai tempat pereratu, raja, dewata dsb. Sedangkan gedebong yang dibawah sebagai tempat raja bawahan, punakawan (parekan). Sedangkan gedebong dibagian kiri adalah tempat raksasa dan gedebong dibagian kanan adalah tempat para yang berbuat darma (kebenaran).
  2. Gender adalah sebagai sarana penyelarasan dari pada kehidupan dalam arti simbolik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s